Senin, 27 Juni 2011

Nilai ekstrinsik dan instrinsik

Nilai ekstrinsik dan instrinsik

Setiap karya seni yang baik seharusnya mendukung dua asas atau nilai utama dalam kekaryaan yaitu nilai intrinsik dan ekstrinsik. Apabila berbicara seni, pokok utama pembicaraan yang membedakan karya seni dengan bidang-bidang lain seperti filsafat, ilmu pengetahuan (terkandung di dalamnya bidang sains, teknologi, ekonomi, komunikasi, kedokteran dan lain-lain) dan agama adalah dengan melihat nilai yang terkandung di dalamnya.Persoalan nilai akan membedakan seni dengan filsafat juga ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan seperti bidang sains dan teknologi misalnya tidak berbicara tentang nilai. Bidang ini berbicara tentang praktika dari suatu konsep dan aplikasinya, berbicara tentang aspek kegunaan dan fisikal. Filsafat juga tidak dapat berbicara tentang nilai karena filsafat adalah upaya manusia untuk mengenal sesuatu. Filsafat hanya berupaya mengenal nilai tetapi tidak membuat pilihan.
Nilai intrinsik adalah nilai yang menyangkut aspek-aspek formalistik, ikonografi dan fisikal. Mengapakah seni enak di pandang mata, mengapakah musik itu sedap didengar telinga, mengapakah drama itu membuat menetes air mata, mengapakah gerakan di dalam suatu seni tari menggugah perasaan; pendeknya nilai yang terkandung dalam aspek-aspek fisikal yang terlihat, dapat didengar, dapat ditonton oleh indera fisikal adalah nilai-nilai intrinsik. Nilai-nilai ekstrinsik berkenaan aspek kejiwaan, filsafat atau psikologi, yaitu nilai-nilai yang tidak dapat dinilai oleh panca indera, serba noumena, transendental. Nilai ekstrinsik hanya bisa dirasai oleh jiwa, intuisi dan naluri dengan pendekatan ilmu, filsafat, kebudayaan dan sisi pribadi individu. Maka dapat dikatakan, jika dua nilai ini bergabung dapat membuahkan hasil yang baik dalam sebuah karya seni.
Namun terkadang dalam sebuah karya seni, dua nilai ini tidak sekaligus ada didalamnya. Sering terjadi nilai entrinsik dikesampingkan dan tidak jarang pula nilai intrinsik dihilangkan. Itulah sebabnya, terkadang sebuah karya seni tidak dapat bertahan lama. Contohnya adalah kartun atau komik yang mempunyai nilai-nilai intrinsik namun tidak punya atau kurang memiliki nilai ekstrinsik (perlu dipahami kebanyakan kartun dan komik adalah yang berbentuk popular). Maka seni ini akan mati dan tidak akan dibicarakan lagi oleh masyarakat jika telah lewat dari jamannya. Namun ada beberapa karya-karya kartun Drs. Suyadi alias Pak Raden misalnya, tetap hidup dan diberi perhatian istimewa karena kekayaan nilai-nilai ekstrinsik didalamnyaPendeknya seniman yang layak dipanggil ‘seniman’ (tidak hanya perupa, desainer, penulis, arsitek, sastrawan, penyair, atau sutradara saja) adalah orang yang berupaya memahami permasalahan masyarakatnya dan harus senantiasa memperbaharui keilmuannya. Sehingga dapat dibedakan mana ‘seniman’ dan bukan dan juga seharusnya seniman menjadi contoh masyarakat dan pemikir yang berkarya bukan sekadar melukiskan keindahan dan berujung pada uang. Seniman tulen adalah mereka yang berupaya menafsir dan mengurai bukan sekadar menterjemah.

http://jonathanroiiblogs.blogspot.com/2011/03/tugas-ibd-nilai-instrinsik-dan-nilai.html
http://rhymepeace.blogspot.com/2011/03/bab-iv-manusia-dan-keindahan-4.html
http://sherlyoctz.blog.com/2010/05/19/5-manusia-dan-keindahan/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar